Foto:Dok. Wikipedia
Jakarta, TM – Iran dikabarkan tengah mempertimbangkan skema atau syarat baru bagi kapal tanker yang akan melintasi Selat Hormuz. Dalam skema tersebut, transaksi minyak diwajibkan menggunakan yuan, mata uang Cina.
Informasi itu dilaporkan oleh Al Jazeera, dengan mengutip pernyataan seorang pejabat Iran yang tidak sebutkan namanya. Rencana tersebut muncul di tengah upaya Iran menyusun mekanisme baru untuk mengelola arus kapal tanker di jalur strategis tersebut.
Selama ini, sebagian besar transaksi minyak global masih menggunakan dolar Amerika Serikat (AS). Namun, sejak dikenai sanksi, minyak mentah Rusia semakin banyak diperdagangkan dalam mata uang alternatif seperti rubel (milik Rusia) dan yuan.
Rencana Iran menggunakan yuan tidak terlepas dari peran Cina sebagai salah satu pembeli utama minyaknya. Langkah itu diperkirakan dapat memengaruhi dinamika pasar energi global. Jika terealisasikan, rencana tersebut dapat menjadi strategi Iran untuk menekan Amerika Serikat dan Israel di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Baca Juga: Jelang Lebaran, Bandara Soetta Catat Lonjakan Penumpang Hingga 128 Ribu Penumpang
Sebelumnya, Iran dilaporkan sempat menutup akses Selat Hormuz menyusul serangan gabungan Israel-Amerika Serikat yang dilancarkan pada akhir Februari 2026. Ketegangan di kawasan tersebut memicu kekhawatiran pasar, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi terpenting di dunia.
Penutupan Selat Hormuz mendorong harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi sejak Juli 2022. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memperingatkan bahwa pembatasan arus kapal melalui Selat Hormuz akan berdampak luas.
