Sebanyak 2,2 Juta Kendaraan Meninggalkan Jabotabek Pada H-10 s.d H+1 Libur Hari Raya Idulfitri 1447H/Lebaran 2026 (Foto:Dok. Jasamarga)
Jakarta, TM – Mudik Idulfitri bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan fenomena ekonomi strategis yang konsisten mendorong aktivitas ekonomi nasional. Karakteristiknya yang massal, terjadwal, dan memiliki efek berganda (multiplier effect) menjadikan mudik sebagai penggerak berbagai sektor riil secara simultan.
Data historis menunjukkan konsumsi rumah tangga meningkat 15–20% dibanding bulan normal selama periode mudik. Tingginya mobilitas masyarakat mempercepat perputaran uang (velocity of money), sementara Marginal Propensity to Consume (MPC) masyarakat Indonesia memperkuat dorongan belanja. Dampaknya, pendapatan pelaku UMKM daerah melonjak hingga 50–70%.
Kajian Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 mencatat aktivitas mudik berkontribusi sekitar 1,5% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional (yoy). Hal ini terjadi melalui redistribusi aliran uang dari pusat aktivitas ekonomi ke berbagai daerah, sehingga memperluas dampak ekonomi dan meningkatkan pemerataan peredaran uang.
Setiap pengeluaran pemudik menciptakan efek berlapis bagi pelaku ekonomi, mulai dari UMKM, pedagang, hingga sektor transportasi. Peningkatan aktivitas perdagangan dan jasa menjadi salah satu indikator nyata dari dampak mudik.
“Dengan potensi yang besar tersebut, sinergi kebijakan serta penguatan peran UMKM menjadi kunci untuk mengoptimalkan momentum mudik Lebaran guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Juru Bicara Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto.
Baca Juga: Efisiensi Energi di Kemhan dan TNI, Kesiapsiagaan Jadi Prioritas
Evaluasi Idulfitri 2025 mencatat pergerakan masyarakat mencapai 154,62 juta orang. Untuk 2026, tren diperkirakan lebih tinggi, dengan target pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 5,5–5,6% (yoy). Optimisme ini didukung stimulus fiskal lebih dari Rp12,8 triliun, bantuan sosial Rp11,92 triliun bagi 5,04 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM), serta diskon tarif transportasi senilai Rp911,16 miliar.
Pemerintah setiap tahun menyiapkan kebijakan untuk mendorong aktivitas ekonomi melalui momentum mudik, antara lain diskon tiket transportasi umum dengan subsidi dan insentif fiskal, penangguhan PPN 6% untuk tiket pesawat, penurunan biaya kebandaraan dan harga avtur di 37 bandara, program mudik gratis, hingga kebijakan Work from Anywhere (WFA).
Kebijakan WFA terbukti strategis. Selain mengurai kepadatan arus mudik, juga memperpanjang durasi tinggal pemudik di kampung halaman. Dengan tetap bekerja dan menerima pendapatan penuh, pemudik memiliki waktu lebih panjang untuk beraktivitas dan berbelanja, sehingga memperkuat perputaran uang selama Idulfitri.
Meski terdapat tekanan global akibat konflik Iran dan Israel-AS, pemerintah menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat.
“Untuk Idulfitri tahun ini, kita optimistis ekonomi bisa lebih baik dari tahun sebelumnya,” kata Haryo.
