Foto:Dok. Istimewa
Jakarta, TM – UNIFIL menggelar upacara penghormatan terakhir untuk tiga prajurit TNI di Bandara Internasional Rafik Hariri, Beirut, Lebanon, Kamis (2/4).
Mereka gugur akibat terkena serangan proyektil Israel yang menghantam markas pasukan perdamaian PBB dan ledakan pada kendaraan yang mereka tumpangi saat menjalankan tugas sebagai pasukan perdamaian PBB di Lebanon Selatan.
“Hari ini, UNIFIL memberikan penghormatan atas kehidupan dan pengabdian Mayor Zulmi Aditya Iskandar, Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, dan Kopral Farizal Rhomadon dari Indonesia, yang gugur dalam dua insiden pada 29 dan 30 Maret saat dengan berani menjalankan tugas mereka di Lebanon Selatan,” tulis UNIFIL melalui akun X, @UNIFIL, yang dikutip Jumat (3/4).
Pada momentum upacara tersebut, Kepala Misi dan Komandan Pasukan UNIFIL, Mayjen Diodato Abagnara menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga serta TNI. Ia juga mengapresiasi pengabdian ketiga prajurit yang gugur.
“Mereka datang jauh dari Tanah Air dengan satu tujuan untuk mengabdi bagi perdamaian. Mereka melakukannya dengan keberanian. Mereka melakukannya dengan kehormatan. Mereka melakukannya hingga akhir hayat,” tegas Abagnara.
Kenaikan Pangkat Luar Biasa dan Santunan
Penghargaan juga diberikan oleh TNI, di mana ketiga prajurit yang gugur akan memperoleh Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) serta santunan senilai Rp1,8 miliar.
Santunan yang diberikan terdiri dari nilai tunai tabungan asuransi, santunan risiko kematian khusus, beasiswa untuk 2 anak, santunan kematian dari PBB, dana watzah, TWP AD, personal accident, serta santunan gugur dari perbankan.
Selain santunan tunai, pihak keluarga ketiga prajurit juga akan diberikan gaji terusan selama 12 bulan (terdiri dari gaji pokok, uang lauk pauk (ULP), dan tunjangan jabatan), serta pensiun janda setelah gaji terusan selesai dibayarkan.
Serangan Proyektil Israel
Ketiga prajurit TNI yang gugur tergabung dalam Satuan Tugas Batalyon Mekanis (Satgas Yonmek) TNI Kontingen Garuda (Konga) XXIII-S UNIFIL. Kopral Farizal Rhomadon, 28 tahun, gugur secara tragis pada Minggu, 29 Maret 2026, ketika sebuah proyektil meledak di posisi UNIFIL dekat Adchit Al Qusayr. Seorang penjaga perdamaian lainnya mengalami luka kritis.
Menurut Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) yang disiarkan Anadolu Ajansi, menjelaskan bahwa penembakan artileri itu berasal dari Israel, dengan menargetkan markas kontingen Indonesia yang bertugas sebagai pasukan perdamaian PBB di Adshit al-Qusayr. Namun, UNIFIL masih mendalami asal muasal artileri tersebut.
Dalam insiden tragis lainnya, Mayor Zulmi Aditya Iskandar, 33 tahun, dan Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, 26 tahun, gugur pada Senin, 30 Maret 2026, ketika ledakan di pinggir jalan menghancurkan kendaraan mereka di dekat Bani Hayyan. Seorang penjaga perdamaian lainnya mengalami luka berat, dan satu lainnya juga terluka.
Berdasarkan laporan dari daerah penugasan, insiden tersebut terjadi pada saat Tim Escort atau pembuka ambulans dari Kompi B Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL yang tergabung dalam Sector East Mobile Reserve (SEMR) melaksanakan pengawalan konvoi combat support service unit (CSSU).
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengecam peristiwa yang merenggut nyawa ketiga penjaga perdamaian tersebut, serta mendesak semua pihak untuk mematuhi kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional dan memastikan keselamatan serta keamanan personel dan aset PBB setiap saat.
Repatriasi Jenazah
Kementerian Pertahanan RI menyatakan, tiga prajurit TNI yang gugur saat bertugas menjadi pasukan perdamaian di Lebanon akan diberangkatkan pada pekan ini.
“Sedang (dilakukan) pemulasaraan jenazah yang rencananya akan dikembalikan ke Tanah Air. Pemberangkatan kemungkinan kalau enggak hari Jumat (3/4), akan dilaksanakan hari Sabtu (4/4),” kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan RI Brigadir Jenderal TNI Rico Ricardo Sirait Rico kepada awak media di Kemhan RI, Jakarta, Kamis (2/4).
