Anies Baswedan dalam acara IM Goes to School di Sekolah Nizamia Andalusia. Foto: Istimewa
Jakarta, TM – Polemik mencuat setelah Sekretariat Kabinet, Letkol Inf Teddy Indra Wijaya, menanggapi kritik Dino Patti Djalal dengan menyebut masa jabatannya sebagai Wakil Menteri Luar Negeri hanya berlangsung tiga bulan. Pernyataan bernada ofensif itu memicu perdebatan publik mengenai cara menilai kontribusi seorang pejabat negara.
Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, turut menanggapi isu tersebut. Melalui akun media sosialnya, Anies menegaskan bahwa rekam jejak Dino di dunia diplomasi jauh melampaui durasi singkat masa jabatannya sebagai Wamenlu.
Anies menceritakan pertama kali mengenal nama Dino saat masih kuliah di Universitas Gadjah Mada. Ia mendengar kabar tentang seorang diplomat muda Indonesia yang berani tampil di BBC World Debate, berhadapan dengan diplomat senior Ramos Horta, di tengah situasi internasional yang menekan Indonesia.
“Diplomat muda itu tampil gemilang menjaga nama Indonesia tegak berwibawa. Di situlah pertama kali saya mendengar namanya: Dino Patti Djalal,” tulis Anies, Selasa (2/6).
Anies juga menyoroti kiprah Dino saat menjabat Duta Besar RI untuk Amerika Serikat pada 2012. Saat itu, Dino menggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles, yang mempertemukan diaspora dari berbagai belahan dunia. Anies sendiri termasuk salah satu undangan dalam forum tersebut.
Menurut Anies, Dino adalah sosok yang menguasai substansi, memiliki rekam jejak teruji, serta pengalaman kepemimpinan yang luas.
“Karier diplomatiknya panjang dan ajeg, kecintaannya pada politik luar negeri Indonesia begitu dalam. Dino Patti Djalal bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat,” tegasnya.
Baca Juga: Prabowo: Pancasila Fondasi Persatuan Bangsa di Tengah Dinamika Global
Jejak Panjang di Diplomasi RI
Selain pernah menjadi Wamenlu, Dino juga pernah menjabat sebagai Juru Bicara Presiden RI dan Duta Besar RI untuk AS. Di Washington DC, ia dikenal aktif membangun jaringan diaspora serta memperkuat diplomasi publik.
Usai purna tugas, Dino mendirikan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), komunitas kebijakan luar negeri terbesar di Indonesia. FPCI berperan melahirkan generasi baru diplomat yang kini menjadi ujung tombak Indonesia di panggung global.
Bagi Anies, durasi singkat menjabat Wamenlu tidak menghapus kontribusi Dino yang telah puluhan tahun menjaga nama Indonesia di forum internasional. Perdebatan ini, menurutnya, menjadi pengingat bahwa kinerja pejabat negara tidak semata diukur dari lamanya masa jabatan, melainkan dari substansi dan dampak kerja yang ditinggalkan.
