Foto:Dok.Setpres BPMI
Jakarta,TM – Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6% pada 2027 dengan mengandalkan investasi, hilirisasi industri, serta penguatan sumber daya manusia. Langkah ini ditempuh untuk memperkuat fundamental perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut capaian pertumbuhan ekonomi semester I 2026 sebesar 5,45% merupakan yang tertinggi dalam 13 tahun terakhir dan termasuk di antara yang terbaik di negara G20. Presiden, kata Airlangga, meminta agar target mendekati 6% dapat dicapai hingga akhir tahun.
“Ini tantangan besar yang membutuhkan kerja keras dan kolaborasi semua pihak,” ujarnya pekan lalu.
Airlangga mengungkapkan, dinamika geopolitik, konflik di Selat Hormuz, serta perang dagang masih memberi tekanan terhadap perdagangan dan investasi. Meski demikian, kondisi fiskal Indonesia tetap solid. Pendapatan negara tumbuh 21,3% dibandingkan tahun sebelumnya, sementara belanja naik 18,2%. Defisit anggaran terjaga di level 0,91% terhadap PDB.
Untuk 2027, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 6 persen, inflasi 2,5%, suku bunga SBN 10 tahun 6,9%, nilai tukar 17.500 rupiah per dolar AS, pendapatan negara sebesar 3.426 triliun rupiah, belanja negara Rp4.097 triliun, serta defisit 2,4% terhadap PDB.
Dari sisi kesejahteraan, pemerintah menargetkan tingkat pengangguran terbuka 4,30%–4,87%, tingkat kemiskinan 6,0%–6,5%, serta rasio gini 0,362–0,367.
Baca Juga: Pemerintah Salurkan Bantuan Rp200 Miliar untuk Penanganan Gempa NTT
Untuk mendorong pertumbuhan, pemerintah memperkuat enam sektor strategis, antara lain hilirisasi dan upstreaming dengan 26 proyek groundbreaking, swasembada energi melalui implementasi B50, ekosistem bulion dan bank emas, mengelola 179 ton emas senilai 360 triliun rupiah, tata kelola devisa ekspor SDA lewat Danantara Sumberdaya Indonesia, pengembangan digitalisasi, semikonduktor, dan AI, hingga Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan kawasan industri sebagai pusat pertumbuhan baru.
Airlangga menekankan investasi harus tumbuh lebih cepat dibandingkan PDB dan diarahkan pada proyek bernilai tambah tinggi. Selain itu, peningkatan produktivitas SDM dan penguatan ekspor berbasis efisiensi logistik menjadi bagian penting strategi pertumbuhan.
Pemerintah juga menyiapkan program magang bagi 150 ribu lulusan serta program vokasional untuk 250 ribu peserta. Dari sisi pembiayaan, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) terus diperluas. Khusus bagi pelaku usaha perempuan, bunga PNM Mekaar diturunkan dari 18% menjadi 8% untuk pembiayaan Rp0–Rp15 juta.
Dengan strategi hilirisasi, penguatan energi, digitalisasi, serta peningkatan kualitas SDM, pemerintah berharap target pertumbuhan 6% dapat tercapai. Langkah ini menjadi fondasi menuju visi Indonesia Emas 2045, yakni negara yang berdaulat, maju, dan sejahtera.
