Foto:Dok. Kemnaker RI
Jakarta,TM – Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menyebut bahwa Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menargetkan pembangunan 60 balai pelatihan di berbagai daerah di Indonesia. Langkah tersebut menjadi upaya memperluas akses masyarakat terhadap pelatihan vokasi.
Selain itu, Kemnaker akan menyiapkan pelatihan untuk 1 juta orang dalam satu tahun dengan pembiayaan penuh, serta mendapat sertifikat.
“Kita akan siapkan pelatihan bagi 1 juta orang dalam satu tahun yang ditanggung secara penuh pemerintah, lengkap dengan sertifikasinya,” kata Yassierli saat menghadiri Rakernas Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (FTPVI) di Jakarta, Selasa (13/10).
Yassierli menambahkan, program pelatihan tersebut ditujukan untuk meningkatkan kompetensi angkatan kerja agar sesuai dengan kebutuhan. Melalui pelatihan ini, para peserta diharapkan memiliki bekal yang lebih baik untuk memasuki pasar kerja.
Untuk menyelaraskan pelatihan dengan kebutuhan industri, Kemnaker mengoptimalkan pemanfaatan data pasar kerja melalui Labor Market Intelligence (LMI) serta pembaruan Klasifikasi Baku Jabatan Indonesia (KBJI). Data tersebut membantu memetakan kebutuhan jabatan dan keterampilan yang diperlukan dunia usaha dan industri.
Yassierli menjelaskan bahwa keterampilan menjadi salah satu pertimbangan perusahaan dalam menilai kesesuaian calon tenaga kerja dengan kebutuhan pekerjaan. Pendekatan skill-first menitikberatkan pada kompetensi seseorang sebagai pertimbangan dalam proses tersebut.
Baca Juga: Kapolri Suyudi Kembali Lakukan Rotasi 199 Pati dan Pamen Polri
“Yang saat ini dicari oleh perusahaan yang memiliki big data adalah kompetensinya, itu yang disebut dengan skill, dan kita sedang mencoba untuk membangun itu pada angkatan kerja di Indonesia,” lanjut Yassierli.
Penyelarasan pelatihan vokasi dengan kebutuhan pasar kerja memerlukan kerja sama pemerintah, lembaga pendidikan, dan dunia usaha agar kompetensi yang dikembangkan semakin relevan dengan kebutuhan industri.
