Foto:Dok. Istimewa
Jakarta, TM – Presiden Prabowo Subianto melangsungkan pertemuan dengan pengusaha Uni Emirat Arab (UEA) bidang teknologi dan pertahanan di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (21/10).
Duta Besar UEA untuk Indonesia Abdulla Salem Al-Dhaheri mengungkapkan bahwa pertemuan dengan Prabowo membahas berbagai bidang kerja sama strategis yang telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.
“Kami berdiskusi cukup panjang. Semuanya mengenai hubungan bilateral antara Uni Emirat Arab dan Republik Indonesia. Kami membahas banyak bidang kerja sama, kami telah membahas perumahan, kami telah membahas semua bidang lainnya seperti infrastruktur,” kata Al-Dhaheri usai pertemuan.
Sebelumnya, kata Al-Dhaheri, hubungan Indonesia dengan UEA hanya berfokus pada tiga bidang utama, yaitu minyak dan gas, pelabuhan, serta pendidikan.
Namun, sejak kunjungan Yang Mulia Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan pada 2019, kerja sama kedua negara telah berkembang pesat ke sektor-sektor baru sepert bidang energi terbarukan, pendidikan, hingga agrikultur.
Salah satu kerja samanya adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Waduk Cirata, Cianjur, Jawa Barat pada 2023.
PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara ini dikembangkan oleh anak usaha PT PLN yakni PT Pembangkitan Jawa Bali Investasi (PJBI) bekerja sama dengan Masdar, perusahaan energi yang berbasis di Abu Dhabi, UEA.
“Kami telah bekerja sama di bidang energi terbarukan, pendidikan, dan pertanian. Salah satu contohnya adalah proyek energi terbarukan Cirata di Jawa Barat yang kini terus dikembangkan,” katanya.
Ia meyakini hubungan Indonesia dengan UEA akan terus positif, seperti terus membantu dalam memproduksi migas melalui Mubadala Energy, sebuah perusahaan energi asal UEA yang memproduksi gas alam di Laut Andaman di Provinsi Aceh.
“Kami memang memiliki beberapa bentuk kerja sama energi, termasuk produksi gas alam di Laut Andaman, Provinsi Aceh. Temuan tersebut merupakan pencapaian besar, bahkan belum pernah terjadi di Indonesia selama 20 tahun terakhir,” ungkapnya.
Oleh karena itu, tidak heran apabila volume perdagangan kedua negara juga meningkat. Kini totalnya mencapai 5 miliar dollar AS dari 1,9 miliar dollar AS pada 2021.
“Kami akan selalu mencari area kolaborasi yang akan memberikan nilai tambah bagi Indonesia dan menciptakan lapangan kerja,” tandasnya.
