Revolusi Prancis (Foto:Dok.frontlinemissionsa.org)
Jakarta, TM – Setiap tanggal 14 Juli, masyarakat Prancis memperingati Bastille Day atau Fête Nationale, sebuah tonggak sejarah yang mengawali Revolusi Prancis dan menandai runtuhnya monarki absolut.
Bastille, awalnya benteng abad pertengahan, beralih fungsi menjadi penjara negara yang digunakan untuk menahan para oposisi politik di bawah kekuasaan Raja Louis XV dan Louis XVI.
Ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintah korup dan penindasan ekonomi yang berat termasuk pajak tinggi terhadap kaum miskin mendorong kemarahan besar-besaran.
Puncaknya terjadi pada 14 Juli 1789, ketika massa menyerbu Bastille untuk merebut senjata dan membebaskan tujuh tahanan yang ditahan di sana. Serangan tersebut menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap ketidakadilan dan sistem feodal yang menindas.
Revolusi Prancis berkembang pesat setelah peristiwa tersebut memuncak dengan eksekusi Raja Louis XVI dan Ratu Marie Antoinette yang mengakhiri era lama dan membuka jalan bagi sistem republik demokratis.

Bastille Day pun ditetapkan sebagai hari libur nasional secara resmi pada tahun 1880.
Hingga kini, Bastille Day dirayakan dengan parade militer, pertunjukan publik, kembang api, dan pidato-pidato kenegaraan. Slogan “Vive le 14 juillet!” (“Hidup 14 Juli!”) menggema sebagai semangat nasionalisme dan pengingat akan perjuangan rakyat dalam memperjuangkan keadilan dan kebebasan.
