Foto:Dok. Istimewa
Jakarta,TM – Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersama Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) membentuk Satuan Tugas Pengembangan dan Penerapan Teknologi Penjernihan Air untuk mendukung penanganan bencana alam di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Satgas ini dipimpin Kolonel Inf Musthofa, sebagai Koordinator Komando Satgas Air, dengan ketua Diyan Parwatiningtyas, dosen Program Studi Fisika FMIPA Unhan RI. Anggota satgas terdiri dari dosen dan kadet Unhan RI lintas program studi, termasuk Rekayasa Sumber Daya Air, Fisika, dan Teknik Sipil.
Dalam keterangannya, salah satu kadet menjelaskan bahwa teknologi water treatment berbasis reverse osmosis yang dikembangkan mampu menghasilkan hingga 20.000 liter air bersih per hari untuk kebutuhan mandi dan mencuci, serta 4.000–5.000 liter air siap minum. Proses perakitan alat ini membutuhkan waktu sekitar empat hari.
“Kemudian selanjutnya untuk water treatment reverse osmosis ini akan disebarkan ke titik-titik lokasi bencana yang berada di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat,” ujar kadet tersebut saat ditemui, Kamis (18/12).
Baca Juga: Satgas Kemanusiaan Unhan Laksanakan Misi di Posko Kesehatan Aceh dan Sumatra
Sistem penjernihan air dirancang menggunakan tabung filtrasi berbahan Fiber Reinforced Plastic (FRP) dengan lapisan media penyaring seperti manganese ferrolite, manganese zeolit, karbon aktif, dan silika. Air hasil filtrasi kemudian diproses dengan teknologi reverse osmosis dan penyinaran ultraviolet (UV) untuk memastikan bebas dari garam terlarut, kontaminan mikro, serta bakteri dan virus berbahaya.

Dengan biaya produksi sekitar Rp65–70 juta per unit, teknologi ini dinilai efisien dan efektif untuk kondisi darurat bencana.
Ke depan, teknologi ini diharapkan tidak hanya digunakan dalam masa tanggap darurat, tetapi juga dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat setempat. Dengan demikian, keberadaan satgas dan teknologi penjernihan air ini diharapkan mampu meningkatkan ketahanan air bersih, menekan risiko penyakit akibat air tercemar, serta mempercepat pemulihan wilayah terdampak bencana.
