Foto:Dok. Kemenpar
Jakarta, TM – Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan bahwa tren pariwisata global telah mengalami perubahan yang signifikan menuju model wisata yang lebih berkelanjutan dan berbasis pengalaman autentik.
Hal tersebut ia katakan dalam acara Indonesia Tourism Outlook 2025 bertema “Navigasi Menuju Pariwisata yang Lestari, Berdaya, dan Menguntungkan” di Jakarta, Rabu (29/10).
Berdasarkan data global, kontribusi sektor wisata berkelanjutan terhadap total industri pariwisata dunia diperkirakan meningkat dari 24 persen pada 2023 menjadi 30 persen pada 2030.
“Ini peluang besar bagi Indonesia untuk mengemas ulang dan memperkaya produk wisata. Kita bisa menggabungkan destinasi populer dengan destinasi niche di sekitarnya, menciptakan pengalaman yang lebih otentik,” ujar Widiyanti.
“Wisatawan yang datang ke Bali, misalnya, bisa melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi untuk merasakan sisi lain Pulau Jawa. Ini memberi pengalaman lebih luas dan mendorong mereka tinggal lebih lama,” sambungnya.
Baca Juga: Menhan Sjafrie Tegaskan TNI Kawal Swasembada Kedelai
Widiyanti menilai pendekatan ini juga menjadi strategi efektif untuk mengoptimalkan potensi wisatawan intra-regional, meningkatkan durasi kunjungan, serta memperbesar pengeluaran wisatawan di dalam negeri.
Kementerian Pariwisata kini memprioritaskan program “Pariwisata Naik Kelas”, yang menekankan nilai keberlanjutan dan pengalaman bermakna dibanding sekadar jumlah kunjungan wisatawan.
“Kita ingin wisata yang tidak hanya ramai, tapi juga berdampak secara ekonomi, sosial, dan lingkungan,” tegas Widiyanti.
Sementara, dalam acara yang sama, Vice President Corporate Secretary InJourney, Yudistira Setiawan, mengatakan nilai aset pariwisata Indonesia saat ini merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. Namun dari sisi jumlah kunjungan wisatawan, Indonesia masih tertinggal dari Singapura, Thailand, Malaysia, dan Vietnam.
“Kenapa kita punya aset sebesar itu, tapi tingkat kunjungannya justru paling rendah? Ini yang harus jadi perhatian bersama,” ujarnya.
Yudistira menilai peningkatan investasi tidak cukup hanya dengan menyediakan lahan atau proyek, tetapi harus didukung oleh penguatan positioning destinasi wisata dan konektivitas langsung ke pasar potensial. Kejelasan arah pengembangan destinasi menjadi kunci bagi investor untuk menilai prospek jangka panjang.
“Keberhasilan menarik investasi pariwisata sangat bergantung pada diferensiasi dan kemudahan akses ke lokasi. Investor akan melihat sejauh mana destinasi itu punya arah pengembangan yang jelas dan bisa dihubungkan langsung dengan pasar utama,” katanya.
