Foto:Dok. IPB
Jakarta, TM – Ketahanan pangan dan transisi energi kerap dipandang sebagai dua agenda besar yang berjalan berseberangan. Namun, kolaborasi lintas institusi menunjukkan bahwa keduanya justru dapat dipercepat secara bersamaan melalui riset, inovasi, dan kebijakan yang terintegrasi.
Komitmen tersebut ditegaskan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Akselerasi Transisi Energi dan Ketahanan Pangan Nasional oleh enam elemen strategis, yaitu IPB, Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, BRIN, Himpunan Alumni IPB, Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia, dan Sekjen Dewan Energi Nasional.
Wakil Rektor IPB University bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Agromaritim, Ernan Rustiadi, menegaskan bahwa isu pangan, energi, dan lingkungan tidak seharusnya dipertentangkan. Menurutnya, terdapat banyak titik temu yang bisa diintegrasikan.
“IPB University berkontribusi melalui berbagai riset, mulai dari biodiesel berbasis alga, biogas makroalga, bioetanol, hingga inovasi pangan seperti beras sehat rumput laut, artificial rice, sorgum unggul, dan produk pangan siap konsumsi,” ujarnya.
Kepala Pusat Riset Teknologi Bahan Bakar BRIN, Hari Satya Praja, menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi geografis dan keanekaragaman hayati yang besar untuk memimpin kerja sama riset dan inovasi multilateral di sektor energi dan pangan.
Baca Juga: KPK Ungkap Potensi Kerugian Negara dari Sektor Kehutanan Capai Rp175 Triliun
Strategi BRIN, lanjutnya, mencakup penguatan riset inovasi, dukungan infrastruktur riset dan sumber daya manusia (SDM), serta alih teknologi sejak tahap awal penelitian.
Sementara itu, Ketua Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia, Cahyo Setyo Wibowo, menegaskan bahwa pengembangan bioenergi harus berjalan seiring dengan ketahanan pangan. Ia menyoroti keberhasilan implementasi biodiesel B30 dan B40, pengembangan biomassa, serta bahan bakar nabati yang tetap perlu dikelola secara berkelanjutan.
Direktur Bioenergi Kementerian ESDM, Edi Wibowo, menyebut forum ini sebagai momentum penting untuk merespons tantangan nasional, termasuk mitigasi perubahan iklim dan pencapaian target net zero emission 2060.
Rektor IPB University, Alim Setiawan Slamet, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar ajang silaturahmi alumni, melainkan konsolidasi gagasan dan aksi nyata.
“IPB University berkomitmen mendorong riset dan kolaborasi agar inovasi pangan dan energi dapat langsung dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya.
