Foto:Dok. Infohan Kemhan
Jakarta,TM – Pembinaan prajurit haruslah berdasarkan prinsip meritokrasi, bukan lagi pada senioritas atau usia. Prinsip ini dinilai berdasarkan prestasi, kapasitas serta kapabilitas dan dibuktikan melalui kinerja nyata di lapangan, bukan hanya berdasarkan aspek administratif atau urutan normatif.
“Kita tidak melihat senior atau junior, tapi kita melihat prestasi,” ujar Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin saat meninjau Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 827 Mahakam Cakti Yudha (MCY), di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, Selasa (13/1).

Kunjungan Menhan Sjafrie dilakukan dalam rangka meninjau kesiapan satuan sekaligus memberikan arahan terkait pembinaan personel TNI ke depan.
Selain meritokrasi, Menhan Sjafrie menekankan pentingnya penerapan konsep belajar sambil bertugas untuk memberikan ruang pengembangan optimal bagi tamtam, bintara, maupun perwira sesuai dengan potensi dan kompetensi masing-masing.
Baca Juga: Perkuat Diplomasi Pertahanan, Menhan Sjafrie dan Menlu Bertemu Presiden Erdogan
Batalyon Teritorial Pembangunan pada hakikatnya, jelas Menhan Sjafrie, merupakan Batalyon Infanteri yang memiliki tugas pokok operasi tempur, yaitu mencari, menemukan, dan menghancurkan musuh.
Sementara itu, tugas Teritorial Pembangunan merupakan tugas yang dilaksanakan untuk mendukung percepatan pembangunan dan penguatan ekonomi nasional.
Sejalan dengan arahan tersebut, pembinaan prajurit di jajaran TNI AD terus diarahkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pemanfaatan sarana pembelajaran yang adaptif dan modern.
