Foto:Dok. Rudau
Jakarta, TM – Motjaba Khamenei ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru menggantikan ayahnya, Ayatolla Ali Khamenei, yang tewas akibat serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari 2026.
Pengumuman tersebut disampaikan melalui pernyataan resmi Majelis Ahli (Khobregan), yaitu lembaga beranggotakan 88 ulama dan memiliki kewenangan dalam memilih pemimpin tertinggi Republik Islam Iran.
Tokoh yang ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi memegang otoritas tertinggi dalam sistem politik Iran. Ia juga berhak mengambil keputusan akhir dalam berbagai urusan negara, termasuk kebijakan luar negeri dan program nuklir, serta menjabat sebagai panglima tertinggi militer dan Garda Revolusi Iran.
“Dengan suara yang menentukan, Majelis Khubregan menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai pemimpin ketiga sistem suci Republik Islam Iran,” demikian pernyataan yang ditayangkan stasiun televisi milik pemerintah.
Baca Juga: 2 Kapal Tanker Pertamina Terjebak di Selat Hormuz, Indonesia Tempuh Diplomasi dengan Otoritas Iran
Dengan penunjukan tersebut, Mojtaba menjadi pemimpin tertinggi ketiga Iran sejak Revolusi 1979 dan mengambil alih kepemimpinan saat konflik regional memanas serta ketidakpastian domestik meningkat.
Melansir berbagai sumber, Mojtaba Khamenei merupakan putra kedua mendiang Ayatollah Ali Khamenei dan tokoh senior yang dikenal dekat dengan pasukan keamanan Iran. Hubungan dekatnya dengan Garda Revolusi Iran (IRGC), memberikan pengaruh tambahan kepada Mojtaba di seluruh aparatur politik dan keamanan Iran.
Selain itu, menurut sumber yang memahami latar belakangnya, Mojtaba juga telah membangun pengaruh di balik layar sebagai “penjaga gerbang” ayahnya. Meski demikian, Mojtaba sebelumnya tidak pernah memegang jabatan terpilih atau secara resmi menduduki posisi senior dalam pemerintahan Iran.
