Foto:Dok. Pertamina
Jakarta, TM – Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mengungkap pihaknya terus menempuh langkah diplomasi dan dialog dengan otoritas Iran terkait dua kapal tanker milik Pertamina yang dilaporkan terjebak di Selat Hormuz.
“Memang saat ini sedang dilakukan upaya diplomasi, upaya koordinasi dengan pihak-pihak terkait di Iran,” kata Direktur Jenderal Asia, Pasifik, dan Afrika Kemlu RI Santo Darmosumarto, dalam jumpa pers di Kemlu, Jumat (6/3).
Ia menambahkan, langkah-langkah diplomatik tersebut bertujuan untuk memastikan kedua kapal tanker Pertamina dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman. Pemerintah juga melakukan lobi agar kapal-kapal tersebut mendapatkan perlindungan selama berada di kawasan tersebut.
“Untuk memastikan bahwa kepentingan Indonesia terkait dengan Pertamina itu dapat terus diberikan perlindungan, dari sisi dapat melintas Selat Hormuz itu dengan apa, dengan aman,” imbuh Santo.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan, dua kapal tanker tersebut tengah bersandar lokasi yang lebih aman sambil menunggu proses negosiasi yang dilakukan oleh pemerintah.
“Ada dua kargo yang terjebak di Selat Hormuz punya Pertamina. Sekarang kapal itu lagi sandar untuk cari tempat yang lebih aman, sambil kami melakukan negosiasi,” ungkap Bahlil, dikutip Sabtu (7/3).
Baca Juga: Iran Klaim Serang Kapal Induk USS Abraham Lincoln dengan Drone
Menteri ESDM juga memastikan bahwa ketahanan energi nasional tidak akan terganggu meskipun dua kapal tanker Pertamina terjebak di Selat Hormuz. Hal tersebut lantaran Indonesia mencari alternatif energi dari Amerika Serikat.
Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dilaporkan telah menutup Selat Hormuz setelah terjadinya serangan gabungan yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari 2026.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia dan menjadi titik krusial bagi transitnya minyak global. Secara geografis, selat tersebut berada di wilayah utara Iran serta di selatan Oman dan Uni Emirat Arab (UEA).
Para analis telah memperingatkan, jika penutupan selat tersebut terus berlangsung, harga minyak dunia berpotensi melonjak seiring terganggunya jalur distribusi energi global.
