Foto:Dok. Ilustrasi
Jakarta, TM – Prospek ekonomi global tahun 2025 masih dibayangi sejumlah risiko struktural dan geopolitik. Proteksionisme yang meningkat, ketimpangan pasar kerja, dominasi institusi keuangan non-bank, serta ketidakpastian dampak teknologi artificial intelligence (AI) terhadap produktivitas menjadi sorotan utama dalam Pertemuan Tahunan International Monetary Fund (IMF) dan World Bank.
Dalam forum tersebut, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, memaparkan tiga strategi utama Indonesia untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional sekaligus mengendalikan inflasi.
Pertama adalah sinkronisasi kebijakan moneter, fiskal, dan stabilitas keuangan. Indonesia menekankan pentingnya bauran kebijakan yang selaras untuk merespons dinamika global secara adaptif.
Kemudian reformasi struktural berbasis hilirisasi dan digitalisasi. Fokus diarahkan pada penguatan pertumbuhan melalui pengolahan sumber daya alam, perluasan inklusi keuangan, dan penciptaan lapangan kerja.
Lalu yang ketiga adalah penguatan kerja sama perdagangan dan investasi internasional. Indonesia mendorong kolaborasi ekonomi di kawasan ASEAN serta dengan mitra utama seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, India, dan Eropa.
“Multilateralisme jauh lebih efektif dibanding unilateralisme dalam mendorong pertumbuhan ekonomi global dan mengatasi ketidakseimbangan,” tegas Perry.
Baca Juga: Danantara Akan Kucurkan Dana 165,92 Triliun Rupiah, 80% untuk Investasi Dalam Negeri
Para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara-negara G20 turut menegaskan komitmen memperkuat kerja sama multilateral dan kebijakan ekonomi yang kredibel. Langkah-langkah yang disepakati meliputi mendorong keseimbangan antara kebijakan fiskal dan moneter, memperkuat ketahanan terhadap risiko keuangan, melanjutkan reformasi untuk pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan, serta mereformasi arsitektur keuangan internasional dan menangani kerentanan utang.
IMF juga merumuskan empat arah kebijakan global untuk menjaga stabilitas dan memperkuat resiliensi pertumbuhan
Pertama, pengelolaan fiskal jangka menengah yang hati-hati. Negara-negara diminta menjaga ketahanan fiskal tanpa mengorbankan investasi dan belanja sosial.
Kedua, stabilitas harga melalui independensi bank sentral. Transparansi dan kredibilitas menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan pasar.
Ketiga, kewaspadaan terhadap risiko sistemik di sektor keuangan. Termasuk ketertarikan antarlembaga dan potensi gejolak pasar.
Keempat adalah reformasi struktural untuk pertumbuhan berkelanjutan. Meliputi perbaikan iklim usaha, tata kelola, pemberantasan korupsi, penyederhanaan regulasi, pengembangan pasar modal, serta peningkatan kewirausahaan dan daya saing.
