Upacara pembukaan Latihan Gabungan Bersama (Latgabma) Super Garuda Shield 2025. (Dok. Puspen TNI)
Jakarta, TM – Latihan Gabungan Bersama (Latgabma) Super Garuda Shield (SGS) 2025 resmi digelar sejak 25 Agustus hingga 3 September 2025.
Latihan multinasional terbesar yang digelar di Indonesia ini dibuka oleh Wakil Panglima (Wapang) TNI Jenderal TNI Tandyo Budi Revita, mewakili Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal), Jakarta, Senin (25/8).
Baca Juga: Presiden Prabowo Anugerahkan Tanda Kehormatan kepada 141 Tokoh, Salah Satunya Teddy Indra Wijaya
Dalam amanat tertulisnya, Panglima TNI menegaskan bahwa SGS bukan sekadar latihan militer, melainkan menjadi wadah kepercayaan, jembatan persahatan, serta komitmen bersama dalam menjaga perdamaian dan stabilitas keamanan di kawasan.
Pada kesempatan yang sama, Komandan Komando Indo Pasifik AS Laksamana Samuel Paparo menyampaikan bahwa Super Garuda Shield telah berkembang menjadi salah satu latihan utama di kawasan, mencakup operasi lintas udara, operasi di pesisir dan hutan, manuver maritim, maupun perencanaan staf.
“Latihan ini membangun interoperabilitas dan ketangguhan. Latihan ini memastikan bahwa sebagai sebuah tim bangsa-bangsa, kita dapat menghadapi tantangan regional dan menjaga Indo-Pasifik tetap bebas dan terbuka,” ujar Laksamana Paparo.
Baca Juga: Satgas Garuda Merah Putih-II Berhasil Terjunkan Bantuan Kemanusiaan ke Gaza di HUT ke-80 RI
Pusat Penerangan TNI (Puspen TNI) dalam siaran pers yang dikutip Selasa (26/8) menjelaskan, Latgabma SGS tahun ini dilaksanakan di sejumlah lokasi, meliputi Jakarta, Bogor, termasuk Baturaja Sumatera Selatan, dan Dabo Singkep Kepulauan Riau.
“Kegiatan ini mencakup latihan tempur darat, laut, udara, operasi gabungan, hingga misi kemanusiaan dan bantuan bencana, yang merefleksikan tantangan nyata yang mungkin dihadapi di kawasa,” tulis Puspen TNI.
Sebanyak 13 negara dilaporkan berpatisipasi dalam latihan tahun ini, yaitu Indonesia sebagai tuan rumah, kemudian Amerika Serikat, Australia, Belanda, Brasil, Inggris, Jepang, Kanada, dan Singapura. Total personel yang terlibat mencapai sekitar 6.000 orang.
