(Foto: Dok. MAN/TM)
Penulis – Dr. Rasminto
“Tentara bukan milik satu golongan, tapi milik seluruh rakyat”.
– Jenderal besar soedirman
Pernyataan legendaris Jenderal Besar Soedirman ini bukan sekadar kutipan historis, melainkan jiwa dari eksistensi Tentara Nasional Indonesia (TNI) sejak kelahirannya.
TNI bukan lahir dari kekuasaan, melainkan dari rahim perjuangan rakyat. TNI juga bukan tentara bayaran, bukan pula simbol kekuatan elite militeristik. Namun, merupakan bagian dari rakyat yang mengangkat senjata untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa yang baru saja diproklamasikan.
Sejatinya, jika kita menulis ulang sejarah nasional Indonesia, maka tidak boleh ada dikotomi antara TNI dan rakyat. Keduanya satu tubuh, satu nafas, satu perjuangan.
Sejarah TNI: Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat
Sejarah mencatat, pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945 merupakan respons langsung terhadap ancaman kembalinya penjajahan. Para pemuda, laskar rakyat, santri, petani, guru, dan eks prajurit PETA berbondong-bondong bersatu membentuk kekuatan bersenjata. Inilah cikal bakal TNI.
Buku resmi Sejarah TNI AD terbitan Dinas Sejarah TNI AD (2005), menegaskan karakter TNI ditegaskan sebagai “tentara rakyat, tentara pejuang, tentara nasional, dan tentara profesional”. Kunci utamanya adalah rakyat. Tanpa rakyat, TNI tidak punya kekuatan moral maupun legitimasi perjuangan.
Gerilya Jenderal Soedirman misalnya, menjadi contoh nyata kemanunggalan tersebut. Meskipun dalam kondisi paru-paru hanya tinggal sebelah, ia memimpin perang gerilya selama lebih dari tujuh bulan bersama rakyat di hutan dan gunung demi menjaga nyala api republik.
Bukan Tentara Profesional Biasa
TNI bukan seperti tentara dalam konsep militer Barat yang steril dari urusan sipil. Hal tersebut diperkuat oleh Benedict Anderson dalam karyanya Imagined Communities, (1983), bahwa bangsa-bangsa pascakolonial cenderung memiliki militer yang dibentuk dari rakyat dan untuk rakyat. Mereka lahir bukan untuk menaklukkan, tapi untuk mempertahankan jati diri bangsanya.
Senada, Prof. Salim Said dalam Genesis of Power (1998) menyebut bahwa kekuatan militer Indonesia berasal dari semangat revolusi dan kedekatan sosial dengan rakyat.
Tidak heran jika dalam berbagai operasi militer selain perang (OMSP) seperti bencana, konflik sosial, dan pembangunan daerah terpencil, TNI tetap hadir bersama rakyat, bukan di atas rakyat.
Mengapa Penting dalam Penulisan Ulang Sejarah?
Langkah Kementerian Kebudayaan untuk menulis ulang sejarah nasional perlu disambut dengan semangat korektif sekaligus konstruktif. Salah satu hal terpenting yang selama ini terabaikan adalah narasi kemanunggalan rakyat dan TNI sebagai fondasi perjuangan bangsa.
Selama ini, banyak kisah perjuangan yang terkesan dipersonalisasi atau dilepaskan dari dimensi kerakyatan. Sehingga semangat kemanunggalan TNI dengan rakyat seakan menjadi hal yang langka dalam kehidupan era modern saat ini.
Kita harus kembali menghidupkan narasi sejarah seperti Pertempuran Surabaya, Gerilya di Jawa Tengah hingga Selatan, Barisan Hizbullah dan Sabilillah, hingga perjuangan rakyat Aceh dan Sulawesi bersama tentara.
Semuanya itu, menjadi bukti konkret bahwa kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia tidak dibela oleh tentara saja, tapi oleh rakyat yang menyatu dengan tentaranya, yang bersama-sama berjuang dan berjuang bersama-sama untuk meraih cita kemerdekaan dan mempertahankannya dari cengkeraman imperialisme asing.
Menjaga Kemanunggalan di Era Kini
Kemanunggalan TNI dan rakyat bukan romantisme sejarah. Melainkan harus menjadi kebutuhan hari ini. Di tengah ancaman baru seperti disinformasi, krisis identitas kebangsaan, dan infiltrasi ideologi transnasional, keberadaan TNI yang dekat dan berpihak pada rakyat merupakan perisai sosial yang nyata.
Narasi sejarah tidak bisa netral. Tapi harus dapat membentuk kesadaran kolektif. Maka dalam penulisan sejarah nasional yang baru, narasi bahwa “Perjuangan TNI adalah Perjuangan Rakyat Indonesia” bukan hanya perlu ditulis, tapi juga dirawat sebagai identitas kebangsaan. Sebab, seperti kata Jenderal Soedirman: “Tentara yang kuat adalah tentara yang dicintai rakyatnya”.
