Ali_Khamenei (Foto:Dok. Wikipedia)
Jakarta, TM – Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dikonfirmasi tewas terbunuh dalam serangan bersama yang dilancarakan Amerika Serikat (AS) dan Israel di Teheran pada Sabtu (28/2). Melansir Al Jazeera, dua media Iran yakni Tasnim dan Fars News Agency, melaporkan dan mengonfirmasi kabar tersebut.
Serangan tersebut juga menewaskan sejumlah anggota keluarga Khamenei, termasuk anak perempuan, cucu, hingga menantu, Di jajaran pejabat Iran, Menteri Pertahanan Iran Amir Harami dan Komandan Angkatan Bersenjata Korps Iran (IRGC) Mohammed Pakpour dilaporkan turut menjadi korban.
Pihak berwenang Iran kemudian menetapkan masa berkabung selama 40 hari serta tujuh hari libur nasional usai kematian pemimpin tertinggi mereka.
Konfirmasi tewasnya Khamenei sebelumnya disampaikan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Kemudian, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyampaikan pernyataan publik serupa melalui akun Truth Social miliknya.
“Ali Khamenei sudah tewas. Ini adalah peluang tunggal terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka. Ini adalah peluang tunggal terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka,” tulis Trump dalam unggahannya di media sosial Truth Social, seperti dilansir Reuters, MInggu (1/3).
Baca Juga: Israel Lancarkan Serangan Terbaru terhadap Iran
Secara umum, serangan yang dilancarkan oleh AS-Israel telah menyebabkan 201 orang tewas, sementara 747 orang lainnya mengalami luka-luka.
Rencana Serangan Balasan
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan pihaknya akan membalas serangan tersebut. Dalam pernyataannya yang dikutip AFP, Minggu (1/3), IRGC menegaskan, tidak akan memberikan para pelaku lolos dari hukuman.
“Tangan pembalasan bangsa Iran untuk hukuman yang berat, tegas, dan patut disesalkan bagi para pembunuh Imam Umat tidak akan melepaskan mereka,” demikian pernyataan IRGC.
Kantor berita Iran, IRNA, melaporkan IRGC tengah menyiapkan operasi balasan yang menargetkan fasilitas militer dan keamanan AS serta Israel. Operasi tersebut akan menggunakan rudal yang lebih canggih dibandingkan yang dipakai dalam Operasi True Promise 3, dengan klaim serangan yang lebih presisi dan destruktif.
