Foto: Endras/TM
Jakarta, TM – Bank Indonesia (BI) mengumumkan posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai US$ 431,5 miliar atau setara dengan Rp 7.025 triliun pada April 2025
Angka ini menunjukkan pertumbuhan 8,2% secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 6,4%.
Hal tersebut disampaikan Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso. Dia mengatakan perkembangan posisi ULN April 2025 bersumber dari sektor publik.
“Kenaikan posisi ULN juga dipengaruhi oleh faktor pelemahan mata uang dolar AS terhadap mayoritas mata uang global,” kata Kepala Ramdan di Jakarta, Senin (16/6).
Baca Juga: Sebut Tidak Ada Pemerkosaan Massal dalam Tragedi ’98, Fadli Zon Tuai Kecaman
Rasio ULN terhadap produk domestik bruto (PDB), lanjut Ramdan, menurun menjadi 30,3% dari sebelumnya 30,6% pada Maret 2025. ULN Indonesia tetap didominasi utang jangka panjang, yang mencapai 85,1% dari total.
“Struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya,” imbuhnya.
Sementara, Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro meyakini utang luar negeri Indonesia akan tetap stabil ke depannya dan terus mendukung stabilitas eksternal Tanah Air di tengah tensi geopolitik dan perang dagang.
“Hal ini mencerminkan profil risiko eksternal yang rendah, membantu menstabilkan rupiah dan mempertahankan kepercayaan investor di tengah ketidakpastian global,” ujar Andry, Senin (16/6).
Dia memandang kestabilan tersebut seiring dengan langkah bank sentral, pemerintah, maupun pihak swasta yang akan menjadi lebih hati-hati melakukan penarikan pinjaman luar negeri.
Andry menyoroti risiko utama yang perlu dipantau termasuk tekanan fiskal yang mungkin memaksa pemerintah untuk menerbitkan lebih banyak utang luar negeri, serta volatilitas makroekonomi yang dapat meningkatkan premi risiko negara, sehingga meningkatkan biaya pinjaman luar negeri.
“Secara keseluruhan, kami memperkirakan rasio utang luar negeri terhadap PDB Indonesia akan tetap di bawah 40% pada tahun 2025,” ujarnya.
