Wamen PPPA, Veronica Tan (Foto.Dok:MAN/TM)
Jakarta, TM – Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Veronica Tan menyoroti sejumlah akar masalah ketimpangan gender di Indonesia.
Hal tersebut diungkap Veronica dalam diskusi Percepatan Pengarusutamaan Gender (PUG) lintas kementerian dan lembaga di Jakarta, Selasa (4/11).
Ia mengatakan salah satu sumber terbesar dari ketimpangan gender di Tanah Air adalah faktor ekonomi sebagian masyarakat Indonesia yang lemah.
“Dalam banyak kasus kekerasan dan perdagangan orang, akar masalahnya selalu ekonomi,” kata Veronica, dikutip dari antaranews.com, Kamis (6/11).
“Perempuan di daerah terpaksa mencari jalan keluar lewat jalur berisiko, karena tidak punya pilihan ekonomi,” sambungnya.
Dalam kesempatan itu, Veronica mencontohkan kunjungannya ke Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) beberapa waktu lalu, dimana banyak perempuan menjadi tulang punggung keluarga.
Mereka, lanjut Veronica, menafkahi keluarganya lewat menenun, berternak dan bertani, namun tetap tidak diakui sebagai pekerja. Identitas dalam KTP para perempuan tersebut masih tercantum sebagai ibu rumah tangga.
“Perempuan sudah bekerja, tapi sistem tidak mengakui. Mereka tidak bisa mengakses bantuan, karena syarat administrasi tidak memadai,” tambahnya.
Baca Juga: Baru Jabat Gubernur Riau, Abdul Wahid Ditetapkan sebagai Tersangka oleh KPK
Menurut Veronica, situasi ini membuat program bantuan pemerintah, seperti perhutanan sosial, pemberdayaan sosial dan UMKM sering tidak tepat sasaran, karena penerimanya tidak tercatat secara formal sebagai pekerja.
Selain ekonomi, Veronica juga menyebutkan faktor sosial-budaya turut menahan perempuan untuk tampil di ruang publik. “Banyak perempuan diajarkan menerima saja, tidak berani bicara. Padahal, mereka adalah penggerak ekonomi nyata di desa,” katanya.
Veronica menilai Indonesia perlu melakukan perubahan sistem yang mengakui kerja perempuan dalam setiap sektor, termasuk pertanian dan UMKM.
“Kalau akar masalahnya ekonomi dan budaya, solusi harus sistemik. Kita harus ubah cara pandang dan regulasinya sekaligus,” tegas Veronica.
