Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA) Veronica Tan (Foto:Dok. MAN/TM)
Jakarta, TM – Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Veronica Tan mengungkap perempuan menjadi kelompok paling rentan terdampak krisis global, terutama dalam sektor lingkungan, sosial dan ekonomi. Apalagi, jika model ekonomi linear berbasis ekstraksi-konsumsi-buang yang telah terbukti tidak berkelanjutan, terus dilakukan.
Berdasarkan laman forestdigest.com, ekonomi ekstraktif adalah jenis pembangunan ekonomi dengan jalan mengeruk sumber daya alam: tambang, lahan, kayu, laut. Salah satu dampak ekonomi ekstraktif adalah krisis iklim.
“Model industri ekstraktif yang terus meningkat memberikan dampak nyata terhadap kerusakan bumi, dan perempuan menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya,” kata Veronica, dikutip dari kemenpppa.go.id, Sabtu (16/8).
“Akses ekonomi yang terbatas, beban ganda produktif dan reproduktif, serta minimnya keterlibatan dalam pengambilan keputusan menjadi tantangan serius bagi perempuan,” sambung dia.
Veronica mengatakan ekonomi restoratif sebagai antitesis dari ekstraktif, hadir untuk menjawab tantangan tersebut. Menurut dia, model ekonomi tersebut paradigma baru yang lebih adil serta berkelanjutan, dan tidak hanya bisa memperbaiki kerusakan ekosistem, tetapi juga menawarkan cara pandang baru terhadap sumber daya dan hubungan manusia dengan alam.
Baca Juga: WamenPPPA Tekankan Pentingnya Sustainability dalam Langkah Pemberdayaan Perempuan dan Anak
Selain itu, Veronica mengatakan ekonomi restoratif juga menekankan aksi kolektif dalam pengelolaan sumber daya secara bertanggung jawab, serta mendukung transformasi sosial untuk menghapus kemiskinan, mengurangi ketimpangan, dan meningkatkan kesejahteraan.

“Perempuan memiliki peran strategis dalam ekonomi restoratif, mereka mengelola 80 persen kebutuhan rumah tangga dan memiliki pengaruh signifikan dalam keputusan konsumsi yang berdampak pada lingkungan dan ekonomi keluarga,” tutur Veronica.
“Fakta ini menunjukkan bahwa ketika perempuan berdaya, dampaknya tidak hanya terasa bagi keluarga, tetapi juga terhadap komunitas dan lingkungan sekitar,” tambah dia.
Kendati demikian, Veronica menyadari bahwa masih terdapat kesenjangan akses dan literasi digital yang dialami perempuan.
“Tantangan terbesar lainnya adalah beban ganda yang masih harus dipikul perempuan. Mereka bertanggung jawab atas sektor domestik tiga kali lipat lebih besar dibanding laki-laki, sehingga waktu dan mobilitas mereka dalam mengembangkan usaha berkelanjutan menjadi sangat terbatas,” ungkap dia.
Baca Juga: 355 Kabupaten/Kota Raih Penghargaan KLA 2025 dari KemenPPPA
Menjawab tantangan tersebut, Veronica mengatakan pihaknya telah mengambil berbagai langkah konkret, salah satunya melalui pengembangan Rencana Aksi Nasional Gender dan Perubahan Iklim (RAN GPI) yang bertujuan meningkatkan partisipasi dan kepemimpinan perempuan dalam aksi iklim, termasuk ekonomi sirkular dan konservasi energi.
Selain itu, Kementerian PPPA juga disebut Veronia terus berupaya memberikan pelatihan kewirausahaan berkelanjutan, memperluas akses pembiayaan mikro, mendukung sertifikasi produk ramah lingkungan, serta mengembangkan ekosistem digital bagi UMKM perempuan.
