Foto:Dok. @INFOFPMKI
Jakarta, TM – Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur mengalami erupsi pada Rabu (19/11), mulai pukul 14.13 WIB hingga 18.11 WIB.
Gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut memuntahkan awan panas yang meluncur sejauh 13 km dari kawah hingga ke kawasan Besuk Kobokan.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat adanya peningkatan aktivitas vulkanik dan atas dasar tersebut status Gunung Semeru resmi dinaikan menjadi level IV (awas).
Merespons kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Lumajang menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari, mulai 19 hingga 26 November 2025.
Kemudian, otoritas kegunungapian, PVMBG turut mengimbau agar warga tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara, khususnya di sepanjang Besuk Kobokan, dalam radius 20 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, Satriyo Nurseno membenarkan adanya gelombang pengungsi akibat erupsi, Menurut data sementara yang dihimpun hingga Rabu malam, sebanyak 1.156 jiwa tercatat telah mengungsi di tujuh lokasi utama.
“Total jumlah pengungsi 1.156 jiwa, data sementara yang dihimpun hingga Rabu malam,” kata Satriyo, dikutip dari CNN Indonesia, Kamis (20/11).
Baca Juga : Presiden Prabowo Resmikan RS Kardiologi Emirates-Indonesia di Solo
Sementara itu, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) resmi menutup seluruh aktivitas pendakian Gunung Semeru pascaerupsi Rabu sore. Keputusan tersebut mengikuti rekomendasi Badan Geologi Kementerian ESDM yang meningkatkan status Gunung Semeru dari level III (waspada) ke level IV (awas).
“Dengan mempertimbangkan kondisi terkini serta rekomendasi dari PVMBG, pendakian Gunung Semeru, termasuk jalur menuju Ranu Kumbolo ditutup mulai hari ini hingga dinyatakan aman,” ujar Rudijanta.
