Wamen PPPA, Veronica Tan di Forum Melawan Misinformasi Kanker Leher Rahim di Era AI (Foto:Dok.KemenPPPA)
Jakarta, TM – Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Veronica Tan, menekankan pentingnya peran media dalam menyediakan informasi kesehatan yang akurat, termasuk pencegahan kanker leher rahim (serviks) melalui imunisasi HPV dan deteksi dini.
Pernyataan itu disampaikan dalam kegiatan MSD Journalism Program tentang Lawan Misinformasi Kanker Leher Rahim di Era Artificial Intelligence (AI) sebagai salah satu upaya percepatan menuju Indonesia Bebas Kanker Leher Rahim tahun 2030, Senin (17/11).
“Peran media sangat penting untuk menghadirkan pemberitaan kesehatan yang akurat, empatik, dan berbasis bukti ilmiah,” kata Veronica, dikutip dari kemenpppa.go.id, Rabu (19/11).
Dalam penjelasannya, Veronica menyoroti bahwa tantangan terbesar penanggulangan kanker serviks bukan hanya akses layanan kesehatan, tetapi juga akses masyarakat terhadap informasi yang benar.
Ia menggarisbawahi bahwa kanker serviks dapat dicegah sepenuhnya melalui imunisasi HPV dan deteksi dini, namun perkembangan teknologi termasuk AI turut meningkatkan risiko hoaks yang memicu ketakutan dan kebingungan publik.
Baca Juga: Pemerintah Tetapkan PPh Permanen untuk UMKM
Menurut data World Health Organization (WHO) dan United Nations Population Fund (UNFPA), Indonesia masih memiliki angka kanker leher rahim tertinggi di Asia, dengan sekitar 36.000 kasus baru dan 21.000 kematian setiap tahun.
Veronica menjelaskan bahwa upaya penanggulangan kanker serviks dapat diperkuat lewat pendekatan Pengarusutamaan Gender (PUG) melalui tiga program utama.
Ketiganya adalah Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kanker Leher Rahim 2023 – 2030 bersama Kementerian Kesehatan; penjangkauan masif bagi kelompok rentan dan wilayah terpencil; serta penguatan peran media.
Selain itu, ia juga menyoroti sejumlah faktor penghambat dalam upaya eliminasi kanker leher rahim di Indonesia. Salah satunya ketimpangan akses terhadap imunisasi dan deteksi dini.
“Sering terjadi karena stigma budaya, ketidaktahuan, atau bahkan misinformasi yang tersebar di dunia maya,” katanya.
Selain mengajak media melawan misinformasi, Veronica mengatakan pihaknya juga bekerja sama dengan Badan Komunikasi Pemerintah (BAKOM) untuk memantau, mendeteksi, dan merespons cepat misinformasi yang dapat membahayakan program strategis kesehatan perempuan.
