Foto:Dok. Istimewa
Jakarta, TM – YBR, bocah berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengakhiri hidupnya pada Kamis (29/1).
Peristiwa tragis ini diduga terjadi karena korban tidak mampu membeli buku dan pena seharga Rp10.000 yang ia minta kepada ibunya.
Namun, permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi ibu korban lantaran kondisi ekonomi keluarga yang sulit.
Korban ditemukan tergantung di pohon cengkeh yang berada tidak jauh dari tempat tinggalnya bersama sang nenek. Di lokasi kejadian, ditemukan sepucuk surat yang ditulis oleh korban untuk ibunya, Maria Goreti.
Mengutip tribunnews.com, Maria syok saat mendapati sang anak telah tiada dengan cara yang memilukan. Ia mengungkap, YBR sempat mengeluh pusing dan tidak mau berangkat ke sekolah, sebelum akhirnya mengakhiri hidup.
Namun, karena khawatir sang anak akan tertinggal pelajaran, sang ibu tetap meminta YBR untuk masuk sekolah. Hingga siang hari, kabar duka itu datang.
YBR merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Sejak berusia 1 tahun 7 bulan, ia diasuh oleh neneknya di pondok berdinding bambu, berukuran 2×3 meter.
Ayah korban telah merantau ke Kalimantan sejak 11–12 tahun lalu dan tak pernah kembali. Sedangkan sang ibu, bekerja sebagai petani dan buruh serabutan.
Meski usianya masih belia, YBR kerap membantu neneknya menjual sayur, ubi, dan kayu bakar. Saking susahnya, mereka mengandalkan hasil kebun seadanya untuk makan sehari-hari. Selama ini keluarga YBR disebut tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah.
Terkait hal ini, Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Ngada, Gerardus Reo pun buka suara. Mengutip kompas.com, Gerardus mengaku menemukan persoalan administrasi kependudukan yang membuat keluarga korban luput dari sistem bantuan pemerintah.
Ibu korban diketahui masih ber-KTP Kabupaten Nagekeo, meski telah 11 tahun tinggal di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada. Gerardus langsung menindaklanjuti dan memastikan data telah diperbarui.
“Ibu korban masih ber-KTP Nagekeo. Saat itu juga kami langsung mendata dan memproses pindah penduduk. Besok, seluruh dokumen kependudukan sudah selesai,” jelas Gerardus.
