Ondel-Ondel menghiasi jalan selama festival selamatan saat peresmian sayap baru Hotel Des Indes, 1923. Foto: Dok.Wikipedia
Jakarta, TM – Berbicara tentang Kota Jakarta tentunya tidak lepas dari Suku Betawi. Suku asli yang telah mendiami ibu kota selama berabad-abad.
Menurut para ahli sejarah, penduduk asli Betawi telah mendiami Jakarta dan sekitarnya sudah ada jauh sebelum Kesultanan Banten menyerbu Pelabuhan Sunda Kelapa pada tahun 1527, serta jauh sebelum Belanda mengambil alih Jayakarta dari tangan Banten dan mengubahnya menjadi Batavia.
Menurut sumber literatur, penduduk asli Betawi dipercaya sudah ada sejak zaman Neoliticum sekitar 1.500 tahun sebelum masehi. Orang Betawi adalah penduduk Nusa Jawa, yang merupakan nenek moyang dari orang Sunda, Jawa, dan Madura.
Mereka berbahasa Kawi atau Jawa kuno, dan mengenal aksara ‘hanacaraka’ yang juga merupakan aksara Jawa dan Sunda.
Keberadaan suku Betawi juga dikonfirmasi arkeolog, yang membuktikan sejak 5.000 tahun yang lalu sudah ada masyarakat yang bermukim di pinggir Kali Ciliwung, antara lain di Condet.
Sejarawan JJ Rizal juga mengatakan bukti yang menunjukkan adanya pemukiman di pinggir Kali Ciliwung 5.000 tahun yang lalu, yakni soal ditemukannya peralatan rumah tangga, di antaranya kapak perimbas.
Orang-orang Cina juga membuat peta sungai yang menyebut adanya Kota Bandar. Dapat dipahami bahwa masyarakat sungai di kota Bandar Kalapa merupakan bentuk lanjut dari masyarakat sungai. Karena ada pengaruh ekspansi Sunda, maka kota ini kemudian lebih dikenal sebagai Sunda Kalapa.
Salah satu kelurahan di Condet, yakni Batu Ampar, konon berasal dari batu yang dipakai dalam kegiatan memasak manusia prasejarah di Jakarta. Karena itu, masyarakat sungai ini bisa disebut sebagai cikal bakal alias nenek moyang orang Betawi.
JJ Rizal menyatakan, salah satu bukti orang Betawi berasal dari masyarakat sungai adalah banyaknya mitos maupun folklor yang berhubungan dengan buaya. Bahkan, salah satu syarat dalam pernikahan cara Betawi adalah membawa roti buaya.

Masyarakat tepian sungai ini kemudian membentuk wilayah yang masuk dalam catatan Cina, yang disebut Kalapa. Setelah ada ekspansi masyarakat Sunda, kota ini kemudian dikenal sebagai Sunda Kalapa atau Kelapa.
Sanusi Pane (1955:27) dalam Sedjarah Indonesia menuliskan, Sunda Kelapa pada masa Pajajaran sudah dikenal sebagai kota pelabuhan internasional. Ia menjadi tempat bertemunya kaum pedagang dari berbagai penjuru dunia, termasuk dari Eropa dan Arabia (Timur Tengah).
Tentunya tak hanya orang-orang Eropa dan Timur Tengah, kaum saudagar lintas bangsa dari negeri-negeri Melayu, India, Jepang, juga Cina, juga sering berkunjung ke Sunda Kelapa. Bandar dagang yang selalu ramai ini memang dikenal sebagai segitiga emas Nusantara bersama Malaka dan Maluku.
Tapi menurut sejarawan Ridwan Saidi, Bandar Sunda Kelapa sebagai zona perdagangan tidak dikuasai oleh kerajaan manapun. Sama halnya dengan zona ekonomi Bandar Lampung, Tuban, dan Pasuruan, yang tak dikuasai kerajaan.
“Sunda Kelapa itu yang berkuasa orang Jakarta,” ucap sosok yang karib dipanggil ‘Babeh’ itu.
Dengan jatuhnya pesisir Jakarta alias Sunda Kelapa dari Pajajaran dan Portugis, tambah beragam pula jenis orang yang menjamahnya, yakni orang-orang Jawa dari Kesultanan Demak, juga dari Cirebon. Penaklukan Kota Sunda Kelapa oleh Fatahillah, yang kemudian mengubah nama kota ini menjadi Jayakarta yang berarti “kemenangan”, membuat masyarakat asli Jakarta terus berevolusi.
Pada awal abad ke-17, wilayah Jayakarta dikelola oleh pejabat dari Kesultanan Banten seiring runtuhnya Kesultanan Demak. Namun, kedatangan orang-orang VOC dari Belanda yang dipimpin Jan Pieterszoon Coen, berhasil mengambil-alih Jayakarta pada 1619. Nama Jayakarta pun kemudian dihilangkan dan diganti menjadi Batavia.
Nama Betawi kemudian muncul, dan merupakan pemberian dari pihak Belanda. Usut punya usut, Betawi diambil dari nama Jakarta pada masa itu, yakni Batavia. Julukan kaum Betawi juga mulai populer pada 1918, saat Mohammad Husni Tamrin membentuk ‘Kaum Betawi’.
Baca juga: Menag Lepas 1.500 Peserta Car Free Day, Semarakkan Tahun Baru Islam 1447 H
Masuknya Belanda, membuat orang Betawi yang tadinya berciri masyarakat sungai berubah menjadi masyarakat benteng. Sifat inklusif dan suka bercampur termasuk dalam urusan kawin membuat terciptanya satu suku etnis tertentu yang ternyata, menurut JJ Rizal, “Jawa bukan, Sunda bukan”
Komposisi penduduk Batavia sangat beragam. Tersusun atas orang-orang Sunda, Melayu (dari Sumatra dan Borneo), Jawa, Bali, Sulawesi, Timor (Nusa Tenggara, Maluku, dll), hingga orang-orang mancanegara beserta keturunannya (semisal Portugis, Belanda, Cina, Timur Tengah, India, Moor, dst).
Perpaduan masyarakat inilah yang sebenarnya telah membentuk suku baru yang lantas dikenal dengan nama Betawi, dan proses ini semakin kental selama masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda.
Pada tahun 1930 dilakukan sensus dan ditemukan 80 ribu jiwa yang tidak bisa dideteksi suku bangsanya. Dengan kebudayaannya yang bercorak Hindis, yang menjadi salah satu aspek kebudayaan Betawi sekarang, kelompok ini dinamakan sebagai Betawi—berasal dari nama Batavia dalam pengucapan pribumi.
Pada masa itu, banyak sebutan untuk orang Betawi, seperti orang ‘Betawi Kota’, diperuntukkan bagi mereka yang menghuni kawasan kota Jakarta, seperti Tanah Abang dan Jatinegara. Adapula sebutan orang ‘Betawi Ora’ yang diperuntukkan bagi orang Betawi penghuni daerah penyangga Jakarta. Sementara itu, orang Betawi Kota menyebut kerabat mereka yang ada di daerah penyangga tersebut dengan julukan ‘Betawi Udik’.
