Siswa yang mendapatkan program Makan Bergizi Gratis (MBG). (Dok. Biro Humas BGN)
Jakarta, TM – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menjelaskan mekanisme penanggulangan biaya korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sejak program MBG diluncurkan pada Januari 2025 lalu, sebanyak 6.517 mengalami keracunan. Dadan menyatakan daerah yang menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) dapat mengklaim ke asuransi.
“Ada dua mekanisme penanggulangan biaya dan ini sudah terjadi. Jadi ada 2 daerah yang menetapkan KLB di tingkat kabupaten/kota dan ketika menetapkan KLB maka Pemda bisa mengklaim pendanaan itu ke asuransi,” jelas Dadan dalam jumpa pers di Kemenkes, Kamis (2/10).
Baca Juga: Korban Meningkat, JPPI Mencatat 8.649 Anak Keracunan MBG
Dua daerah yang sudah menetapkan KLB yakni Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Garut. Sementara untuk daerah yang belum menetapkan KLB, pembiayaan korban keracunan ditanggung oleh BGN.
“Kemudian daerah yang tak menetapkan KLB seluruh biaya sejauh ini ditanggung oleh BGN,” jelas Dadan.
Di tempat yang sama, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menanggapi kasus keracunan MBG belum termasuk sebagai KLB nasional. “Kalau KLB naik ke skala nasional itu ada aturannya di UU saya nggak ingat aturannya. Sekarang belum masuk ya,” ucapnya.
Baca Juga: Pemerintah Tetapkan Cikande Terpapar Radiasi CS-137, Sembilan Orang Terkontaminasi
Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas) menegaskan pemerintah bergerak cepat merespons berbagai persoalan dalam pelaksanaan program tersebut.
“Pemerintah terus-menerus memastikan program makan bergizi gratis (MBG) berjalan aman layak sesuai SOP dan tepat sasaran. MBG adalah hak dasar warga negara dalam memenuhi asupan gizi yang layak agar menjadi generasi unggul masa yang akan datang,” ujar Zulhas.
Ia mengakui, program MBG memiliki ruang lingkup sangat luas dan tantangan besar. “Tentu ini program yang mendasar, besar, dan memberikan dampak yang luas. Juga tantangannya tidak ringan karena besar. Selalu ruang lingkup pikiran Bapak Presiden itu besar-besar, apakah pangan atau koperasi, itu besar,” ujarnya.
