Kereta Api Panoramic (Foto:Dok. KAI)
Jakarta, TM – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI memanfaatkan lebih dari 327 juta meter persegi (m2) lahan perkeretaapian dengan memperkuat integrasi antarmoda melalui konsep pembangunan berorientasi transit (Transit Oriented Development/TOD).
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan langkah ini merupakan kunci masa depan transportasi Indonesia. Adapun hingga saat ini, moda KAI Group sudah saling terhubung seperti KRL Yogya–Solo, LRT Jabodebek, kereta cepat Whoosh.
Selain itu, Bobby menuturkan pada HUT ke-80 KAI tahun ini, ia berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik, agar kereta api semakin menjadi pilihan utama transportasi masyarakat.
Ia menjelaskan pengembangan TOD serta ruang komersial di stasiun pun memberi nilai tambah bagi masyarakat, sekaligus upaya optimalisasi pendapatan non-tiket (non-fare box) dan aset sebagai salah satu pilar bisnis utama KAI.
Adapun dua pilar bisnis utama lainnya yakni meningkatkan faktor muat (load factor) penumpang dan barang agar perjalanan lebih efisien dan biaya logistik semakin kompetitif, serta mempercepat pengembangan teknologi untuk mendukung integrasi logistik nasional.
“Program ini dipilih bukan hanya untuk memperkuat posisi KAI, tetapi agar layanan yang kami hadirkan benar-benar memberi manfaat nyata bagi pelanggan dan negara,” kata Bobby, dikutip dari antaranews.com, Rabu (8/10).
Bobby juga menegaskan pihaknya siap menuju status operator kelas dunia melalui disiplin, strategi yang jelas, dan kerja sama seluruh insan KAI.
Menurutnya, visi “Be a Nation Integrated Logistics Toward World Class Railways Operator” lahir dari kebutuhan bangsa akan transportasi publik yang andal dan logistik yang terintegrasi.
“Seperti sebuah tim sepak bola yang bermain dengan formasi rapih, solid, dan penuh semangat, kami ingin setiap lini di KAI bergerak bersama menuju kemenangan yang bermanfaat bagi masyarakat,” tutur Bobby.
Baca Juga: Operasi SAR Resmi Dihentikan, 67 Jenazah Korban Ambruknya Ponpes Al Khoziny Ditemukan
Adapun indikator utama yang KAI kejar adalah ketepatan waktu (on time performance/OTP), keselamatan, dan kepuasan pelanggan. Pada 2024, OTP keberangkatan tercatat 99,77 persen dan kedatangan 96,05 persen.
Selain itu, indeks kepuasan pelanggan juga menunjukkan tren positif, yakni 4,51 pada semester I dan 4,49 pada semester II, lebih tinggi dibandingkan moda transportasi lain.
Bobby mengatakan dampak dari capaian ini bukan hanya rasa aman dan nyaman bagi penumpang, tetapi juga efisiensi bagi perekonomian nasional. Ia menegaskan KAI terus berupaya menghadirkan layanan yang andal, aman, tepat waktu, dan ramah lingkungan.
“Capaian ini adalah hasil kerja keras seluruh Insan KAI, dan masih banyak ruang untuk ditingkatkan,” ujarnya.
Bobby meyakini visi menjadi operator kelas dunia bukan sekadar ambisi perusahaan, melainkan perjalanan bersama pelanggan. Ia mengatakan KAI ingin memastikan bahwa kereta api benar-benar menjadi sahabat perjalanan sekaligus motor pembangunan bangsa.
“Mobilitas yang lancar membantu menekan biaya logistik dan mempercepat pergerakan orang maupun barang ke seluruh penjuru negeri,” tutur dia.
“Integrasi (antarmoda) ini tidak hanya memudahkan mobilitas masyarakat, tapi juga menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di sekitar stasiun,” pungkas Bobby.
