Foto: Dok. Forwaparekraf
Jakarta,TM – Misteri tentang Atlantis, benua legendaris yang hilang sejak ribuan tahun lalu, kembali menjadi perbincangan hangat.
Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) bersama Aruna Books Publishing menggelar diskusi buku Atlantis: The Lost Continent Finally Found, karya ilmuwan asal Brasil, Prof. Arysio Santos, yang mengusung klaim mengejutkan: Atlantis berada di wilayah Nusantara.
Dalam diskusi yang digelar di Jakarta pada Jumat (11/7), Presiden Atlantis Publications sekaligus asisten riset utama Prof. Santos, Frank Joseph Hoff, memaparkan sejumlah bukti yang mendukung hipotesis tersebut.
Ia menyebutkan bahwa dalam seluruh parameter yang disebutkan Plato mulai dari sistem irigasi, kekayaan logam, hingga bencana besar yang menyebabkan daratan tenggelam Indonesia dianggap paling relevan.
“Dalam semua parameter yang disebut Plato, Indonesia selalu cocok. Baik dari segi geografi, sejarah alam, maupun mitos-mitos lokal yang mengisahkan banjir besar,” ujar Hoff.
Ia juga mempresentasikan beragam data pendukung seperti peta topografi purba, citra satelit, grafik elevasi Laut Jawa dan Selat Sunda, serta kutipan teks kuno. Hoff menyebut berbagai budaya lokal di Nusantara—dari Nusa Tenggara hingga Kalimantan—memiliki cerita rakyat yang merekam peristiwa serupa bencana besar, memperkuat dugaan adanya jejak peradaban hilang di kawasan ini.
Buku Atlantis: The Lost Continent Finally Found merupakan hasil riset multidisiplin yang dilakukan Prof. Santos selama lebih dari 30 tahun. Teori ini menggabungkan geologi, arkeologi, sejarah kuno, linguistik, hingga paleoklimatologi.
Salah satu fokus utamanya adalah analisis terhadap letusan besar gunung purba Krakatau, yang diyakini menjadi penyebab tenggelamnya sebagian daratan Sunda—sebuah skenario yang dinilai sejalan dengan narasi Plato dalam Timaeus dan Critias.
Secara keseluruhan, lebih dari 30 indikator geografis dan geologis dianalisis dalam buku tersebut. Hasilnya, kawasan Asia Tenggara, khususnya dataran Sunda yang kini berada di bawah permukaan laut, dinilai memiliki tingkat kecocokan tertinggi dengan deskripsi Atlantis dalam sumber-sumber klasik.
Baca Juga: Tradisi Pacu Jalur, Warisan Budaya yang Kini Viral di Sosial Media
Meski pertama kali diterbitkan pada awal 2000-an, buku ini kembali dibaca ulang dalam konteks baru seiring meningkatnya minat terhadap sejarah lokal dan identitas budaya.
Forwaparekraf menekankan pentingnya eksplorasi warisan ini melalui pendekatan kreatif lintas media—seperti film dokumenter, novel grafis, hingga permainan edukatif.
“Kami ingin generasi muda melihat ini bukan hanya sebagai mitos, tapi sebagai peluang untuk menggali lebih dalam sejarah dan jati diri bangsa,” pungkas Hoff.
