Foto: Dok.Istimewa
Jakarta, TM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan banjir masih merendam sejumlah wilayah di Jakarta pada Selasa (8/7).
Genangan yang sebelumnya tercatat di 35 RT pada pukul 05.00 WIB, menjadi 46 RT pada pukul 06.00 WIB dengan Ketinggian air mulai dari 30 cm hingga 130 cm.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut, banjir Jakarta beberapa hari ini merupakan kombinasi dari tiga faktor besar yakni naiknya air laut (rob), curah hujan tinggi, dan banjir kiriman dari wilayah hulu seperti Bogor dan Depok.
Ketiga kondisi itu terjadi bersamaan, sehingga menyebabkan air tak bisa mengalir ke laut dan akhirnya meluap ke permukiman warga.
“Ketika itu air lautnya naik tinggi, sehingga air itu sama sekali tidak ada yang bisa dibuang ke laut. Walaupun curah hujan di Jakarta tidak di atas 200 mm, di wilayah atas ada yang di atas 200,” jelas Pramono.
Sebagai langkah penanggulangan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta mengaktifkan seluruh pompa air untuk mengatasi banjir Jakarta. Namun, dari sekitar 600 unit pompa penyedot banjir, 10 di antaranya rusak.
Sementara itu, Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta, Ika Agustin, menjelaskan, pihaknya telah mengoperasikan sebanyak 605 unit pompa di 202 lokasi pompa stasioner.
Baca Juga: Gunung Lewotobi Kembali Erupsi, Semburan Abu Vulkanik Setinggi 13 Kilometer
Waspada Cuaca Ekstrem hingga 12 Juli 2025
Sejumlah wilayah di Indonesia diprediksi masih akan diguyur hujan dengan intensitas tinggi hingga 12 Juli 2025. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, curah hujan lebat di musim kemarau memang relatif aneh dan anomali cuaca tersebut telah terdeteksi sejak Juni 2025.
BMKG kemudian membeberkan sejumlah faktor yang melatarbelakangi anomali cuaca tersebut, yaitu curah hujan di atas normal, sirkulasi siklonik di Bengkulu, badai tropis di utara Indonesia, aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO), dan suhu laut Indonesia yang masih hangat.
Dengan kondisi saat ini, BMKG mengimbau agar masyarakat selalu waspada lantaran cuaca ekstrem di Indonesia dapat memicu gelombang tinggi serta bencana lainnya seperti longsor, angin kencang, petir, dan banjir rob.
Selain itu, BMKG turut mengimbau masyarakat untuk tetap mewaspadai potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat disertai kilat atau petir, angin kencang, dan gelombang tinggi di wilayah perairan Indonesia, mengingat kondisi atmosfer yang masih sangat dinamis.
