Foto:Dok. Unsplash
Jakarta, TM – Nilai rupiah melemah hingga nyaris menyentuh angka Rp17.000 terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi menilai rupiah masih berpeluang melemah terhadap dolar AS pada Jumat (16/7), karena tekanan dari sentimen global belum sepenuhnya mereda.
Ia menjelaskan pada hari ini, rupiah ditutup melemah 31 poin ke level Rp 16.896 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 16.865.
“Sedangkan untuk perdagangan senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 16.890 – Rp 16.920,” ungkap Ibrahim Assuaibi, dikutip dari investor.id, Kamis (15/1).
Ibrahim menjelaskan, meski ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mulai mereda, rupiah tetap tertekan karena kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi AS. Salah satu perhatian utama investor adalah isu independensi bank sentral AS (Federal Reserve), menyusul adanya penyelidikan terhadap Ketua The Fed Jerome Powell.
“Para pedagang tetap yakin bahwa bank sentral akan memangkas suku bunga pada tahun 2026,” jelas Ibrahim.
Baca Juga: Defisit APBN Diproyeksi Tembus 3,5 Persen PDB, Citigroup Beri 2 Opsi ke Pemerintah
“Data lebih lanjut mengungkapkan bahwa Penjualan Ritel melebihi perkiraan, sebuah indikasi bahwa rumah tangga Amerika meningkatkan pengeluaran, sebagian besar untuk kendaraan bermotor dan lainnya,” ungkap dia.
Selain itu, Ibrahim juga menyebut fokus pasar hari ini adalah Klaim Pengangguran Awal yang berakhir pada 10 Januari, dengan perkiraan bahwa 215.000 warga Amerika mengajukan tunjangan pengangguran.
“Di atas 208.000 yang terlihat pada minggu sebelumnya,” pungkas dia.
