Foto ilustrasi jalan tol proyek JJS Dok: Jasa Marga
Jakarta, TM — Upaya penyederhanaan struktur dan proses bisnis di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor transportasi dinilai tidak cukup berhenti pada aspek internal korporasi. Transformasi tersebut harus mampu menghadirkan layanan publik yang lebih andal sekaligus menekan biaya logistik nasional agar lebih efisien.
BUMN transportasi memegang peran vital dalam menjaga konektivitas nasional, mulai dari pengelolaan pelabuhan, bandara, hingga jalan tol. Karena itu, efisiensi di tingkat perusahaan harus diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat dan dunia usaha, terutama dalam kelancaran mobilitas orang dan barang.
Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), Tulus Abadi, menilai strategi streamlining BUMN transportasi relevan dengan fungsi utama BUMN sebagai penyedia layanan publik. Menurutnya, efisiensi korporasi dapat berjalan selaras dengan peningkatan kualitas layanan apabila didukung tata kelola yang kuat dan strategi transformasi yang tepat.
“Streamlining di BUMN pelayanan publik itu menjadi keniscayaan, sebab salah satu fungsi utama BUMN adalah untuk public services. Dengan pola tersebut akan tercipta pelayanan publik yang andal dan tingkat kepuasan publik yang tinggi,” ujar Tulus, saat dihubungi dari Jakarta.
Ia menambahkan, keberhasilan streamlining dapat dilihat dari indikator kinerja keuangan yang sehat, percepatan layanan pengaduan, serta meningkatnya kepuasan pengguna. Konsolidasi BUMN di sektor strategis, lanjutnya, bisa menjadi instrumen negara untuk menjaga keterjangkauan tarif, ketersediaan layanan, dan keandalan infrastruktur.
Namun, Tulus mengingatkan agar efisiensi tidak justru menambah beban masyarakat.
“Aspek yang harus dimitigasi adalah efisiensi biaya produksi dari BUMN tersebut, sehingga publik tidak harus menanggung biaya yang tidak seharusnya dibebankan. Dalam jangka menengah, transformasi ini seharusnya dapat mendorong penurunan biaya logistik,” tegasnya.
Sementara itu, Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menegaskan kehadiran Danantara menjadi momentum perubahan paradigma pengelolaan BUMN.
“BUMN didorong untuk semakin kompetitif melalui inovasi, efisiensi, dan peningkatan kualitas layanan, bukan sekadar mengandalkan status sebagai perusahaan negara,” katanya.
Baca Juga: DPR Tepis Isu Pergantian Kapolri: Tidak Ada Surpres
Danantara saat ini tengah memimpin transformasi di klaster Pelayanan Publik, Transportasi & Konektivitas. Sejumlah BUMN besar seperti InJourney Airports (PT Angkasa Pura Indonesia), Pelindo (PT Pelabuhan Indonesia), dan PT Jasa Marga Tbk diperkuat melalui sinergi terpusat. Fokus transformasi mencakup penyederhanaan struktur, penguatan tata kelola, optimalisasi bisnis dan aset, percepatan digitalisasi, serta penguatan sumber daya manusia.
Pelindo melakukan streamlining dengan mengurangi duplikasi fungsi, menstandardisasi layanan, dan memperkuat integrasi operasional pelabuhan. InJourney Airports menekan beban bunga hingga 10% per tahun melalui restrukturisasi pembiayaan yang lebih terintegrasi.
Sementara Jasa Marga mengembangkan transformasi berbasis digitalisasi, termasuk Jasamarga Tollroad Command Center (JMTC) dengan lebih dari 3.500 CCTV real-time serta aplikasi Travoy yang telah diunduh lebih dari 1,3 juta kali.
Langkah-langkah tersebut menunjukkan bagaimana teknologi dan tata kelola modern menjadi kunci dalam menghubungkan efisiensi operasional dengan pengalaman pengguna.
Transformasi BUMN transportasi ini berlangsung menjelang peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia pada 17 Agustus mendatang.
