Foto:Dok. Detik.com
Jakarta, TM – Dugaan keracunan usai menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi. Kali ini, korban adalah murid dan guru di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Mengutip liputan6.com pada Rabu (24/9), 16 murid dan seorang guru di SDN 12 Kecamatan Benua Kayong keracunan usai menyantap makan bergizi gratis (MBG) dengan menu ikan hiu filet saus tomat, oseng kol dan wortel.
Dewi Hardina, kepala sekolah tersebut mengatakan menu makanan tersebut mengeluarkan bau anyir dan lendir pada sayur. “Baunya agak menyengat,” katanya.
Adapun dugaan tersebut terindentifikasi setengah jam usai murid menyantap MBG. Ruang kelas berubah jadi arena panik karena anak-anak mengeluh mual. Dari ruang UKS mereka beriring ke puskesmas, lalu ke IGD RSUD dokter Agoesdjam.
Kepala SPPG Dapur Mitra Mandiri 2, M Prayoga menjawab singkat saat ditanya soal dugaan kelalaian hingga menyebabkan belasan murid keracunan.
“Bukan,” tuturnya.
Baca Juga: Keracunan Massal Akibat Program MBG Terulang, Pemerintah Diminta Lakukan Evaluasi Menyeluruh
Namun tak lama setelah itu, Kepala Regional MBG Kalimantan Barat, Agus Kurniawi, mengumumkan dapur Mitra Mandiri 2 dinonaktifkan dan Kepala SPPG dirumahkan, karena kejadian ini. “Menu itu jarang dikonsumsi siswa. Ada kelalaian,” tegas Agus.
Kepala Dinas Kesehatan Ketapang, Feria Kowira menegaskan kondisi 17 pasien berangsung membaik. Ia juga memastikan biaya pengobatan tersebut ditanggung pemerintah.
Selain itu, sampel makanan sudah dikirim ke laboratorium Provinsi Kalimantan Barat. Pemeriksaan 24 jam dilakukan, menunggu hasil uji yang akan menentukan asal racun.
Wakil Bupati Ketapang, Jamhuri Amir, juga datang langsung ke RSUD dokter Agoesdjam Kabupaten Ketapang. Ia meminta Dinas Kesehatan dan Pendidikan harus dilibatkan harus selalu terlibat dalam pengelolaan dapur.
“Tak boleh lepas tangan,” tegasnya.
Jamhuri juga mendesak Badan Gizi Nasional melakukan evaluasi menyeluruh, mengingat kasus serupa sudah berulang di daerah lain.
Sehari setelah kejadian itu, menu MBG di sejumlah sekolah nyaris tak tersentuh. Para orang tua merasa cemas. Ratna, salah satu ibu murid bahkan memilih membekali anak dengan nasi dari rumah. “Daripada berisiko,” pungkasnya.
