Foto:Dok. Kemenag RI
Jakarta, TM – Sebanyak 100 pasangan dari wilayah Jabodetabek mengikuti Nikah Fest yang diselenggarakan Kementerian Agama di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (4/9).
Dalam acara tersebut, masing-masing pasangan mengikuti proses akad nikah secara gratis. Mereka kemudian mendapatkan voucher menginap di hotel dan mendapatkan modal usaha sebesar Rp2 juta.
Menteri Agama, Nasaruddin Umar, mengatakan bahwa program ini menjadi bentuk kehadiran negara dalam membantu masyarakat yang ingin menikah namun terkendala biaya.
“Banyak orang ingin menikah tapi terhambat biaya. Melalui kegiatan ini, semuanya gratis, tanpa ada biaya penghulu. Bahkan, pasangan juga diinapkan di hotel dan mendapat modal usaha Rp2 juta. Program ini ditujukan bagi masyarakat kurang mampu,” ujar Nasaruddin.
Dia menilai, program tersebut juga bisa menjadi tradisi positif sekaligus bentuk efisiensi. Menurut dia, biaya pernikahan umumnya bisa mencapai ratusan juta rupiah, sementara setiap tahun sekitar 2 juta orang melangsungkan pernikahan di Indonesia.
“Kalau rata-rata biaya pernikahan Rp100 juta dikali 2 juta pasangan, itu sama dengan Rp200 triliun. Jumlah ini besar sekali. Lebih baik dana itu dipakai untuk modal usaha pasangan agar bisa membangun keluarga yang sejahtera,” tuturnya.
Baca Juga: Kemenag Buka Wisata Religi Melalui Kegiatan Masjid Travelers
Selain membantu memangkas biaya, lanjut Nasaruddin, pemerintah juga mempermudah birokrasi perkawinan. Bahkan, mahar pernikahan turut dibantu agar pasangan tidak terbebani.
“Yang penting syarat dan rukunnya terpenuhi, ada calon suami, calon istri, wali, saksi, serta mas kawin. Itu sudah cukup,” ucapnya.
Nasaruddin juga menyebut, program nikah massal ini tidak hanya dilakukan di Indonesia, melainkan juga di luar negeri. Bulan lalu, Kemenag menggelar kegiatan serupa di Taiwan dengan 87 pasangan dan ke depan akan dilaksanakan di Hong Kong, Malaysia, hingga Arab Saudi.
“Bukan hanya umat Islam, ke depan kami juga akan menyelenggarakan kegiatan serupa untuk umat beragama lainnya, seperti Katolik, Protestan, Hindu, maupun Buddha,” ujarnya.
