Foto:Dok.waste4change
Jakarta, TM – Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) DKI Jakarta melaporkan sebanyak tujuh orang menjadi korban jiwa dalam insiden longsor gunungan sampah setinggi 50 meter di Zona IV Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (8/3).
Kepala kantor SAR Jakarta Desiana Kartika Bahari menjelaskan, operasi pencarian akhirnya dihentikan setelah seluruh korban yang sebelumnya dilaporkan hilang berhasil ditemukan oleh tim SAR. Selain korban jiwa, enam orang lainnya dilaporkan selamat dari insiden nahas tersebut.
“Pukul 23.30 WIB, Tim SAR gabungan kembali menemukan satu korban teridentifikasi bernama Riki Supriadi, dievakuasi menuju RS Polri Kramat Jati,” ungkap Desi.
Kronologi Kejadian
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta Isnawa Adji menjelaskan, longsor terjadi saat sejumlah truk tengah melakukan aktivitas bongkar muat sampah di lokasi kejadian pada pukul 14.30 WIB.
Ia mengatakan, peristiwa itu terjadi ketika truk-truk pengangkut sampah sedang mengantre untuk menurunkan muatan di area TPST Bantargebang.
“Pada hari Minggu, 8 Maret 2026 pukul 14.30 WIB saat truk sampah sedang mengantre untuk melakukan pembongkaran muatan sampah, tiba-tiba terjadi longsor yang menimpa 5 unit truk sampah dan 1 warung di sekitar lokasi,” ujar Isnawa
Ia menambahkan, longsor tersebut diduga dipicu oleh hujan lebat yang mengguyur wilayah tersebut dalam durasi yang cukup lama.
Senada, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut longsor gunungan sampah di TPST Bantargebang tersebut dipicu hujan ekstrem, yang kemudian menyebabkan permukaan gunungan sampah licin dan akhirnya longsor.
Ia menambahan, curah hujan pada hari itu tercatat sangat tinggi, mencapai sekitar 264 milimeter per hari.
“Peristiwa longsor tersebut di Zona 4A pada pukul 14.30 diduga dipicu oleh hujan ekstrem pada hari Minggu yang menyebabkan jalan operasional dan Sungai Ciketing sepanjang 40 meter tertutup sampah,” kata Pramono di Balai Kota Jakarta, Senin (9/3), dikutip dari detiknews.
Baca Juga: Pemerintah akan Bangun 140 Ribu Hunian Vertikal di Cikarang untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah
Evaluasi Metode Open Dumping
Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Hanif Faisol Nurofiq menegaskan, tragedi tersebut tidak perlu terjadi jika pengelolaan sampah dilakukan sesuai regulasi.
TPST Bantargebang merupakan satu dari ratusan tempat pengelolaan akhir (TPA) sampah yang menggunakan sistem kumpul, angkut dan buang di tempat terbuka (open dumping).
“Ini adalah alarm keras bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk segera menghentikan metode open dumping yang terus mengancam nyawa manusia. Kejadian ini adalah bukti kegagalan sistemik yang tidak boleh lagi ditoleransi,” tegas Hanif, dikutip Selasa (10/3).
TPST Bantargebang memiliki luas sekitar 110,3 hektare dan telah beroperasi sejak 1989. TPST tersebut menampung lebih dari 7.354 ton sampah Jakarta per hari. Ketinggian sampahnya membentuk mirip “gunung sampah” yang tingginya setara gedung 16 lantai. Kini sampah di TPST Bantargebang diperkirakan telah mencapai 55 juta ton.
