Foto:Dok. Setpres BPMI
Jakarta, TM – Kabar duka menyelimuti Tanah Air setelah Try Sutrisno, Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia dikabarkan meninggal dunia pada Senin (2/3) pagi, di usia 90 tahun.
Informasi wafatnya Try Sutrisno disampaikan oleh pengamat militer dan politikus Susaningtyas Nefo Handayani Kertapati melalui unggahan di akun Instagram pribadinya.
“Assalamualaikum Wr Wb. Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wafuanhu. Jenderal TNI (Purn) H Try Sutrisno bin Subandi, wapres ke-6 RI meninggal dunia pada hari ini Senin (2/3) di RSPAD jam 06.58 WIB,” tulis Susaningtyas.
Jenazah almarhum dimandikan di rumah duka RSPAD sebelum dibawa ke kediamannya di Jalan Purwakarta nomor 6, Menteng, Jakarta Pusat. Pihak keluarga juga memohon doa serta keikhlasan untuk memaafkan segala kesalahan almarhum semasa hidupnya.
Kepergian sosok jenderal purnawirawan ini menjadi momen refleksi atas perjalanan panjang pengabdian Try Sutrisno di bidang militer maupun pemerintahan.
Profil Try Sutrisno
Try Sutrisno lahir di Surabaya pada 15 November 1935. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana yang membentuk karakter disiplin dan kerja keras sejak usia muda.
Ketertarikannya pada dunia militer sudah terlihat sejak awal, yang kemudian mengantarkannya meniti karier panjang di lingkungan TNI Angkatan Darat.
Perjalanan hidupnya mencerminkan dedikasi yang konsisten terhadap negara. Dari latar belakang yang sederhana, ia berhasil menapaki berbagai posisi strategis hingga mencapai puncak kepemimpinan militer nasional.
Karier militer Try Sutrisno dimulai ketika ia terlibat dalam penumpasan pemberontakan PRRI pada tahun 1957. Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk kepemimpinannya di kemudian hari.
Seiring waktu, ia dipercaya menduduki sejumlah jabatan penting di tubuh TNI AD. Pada tahun 1978, ia menjabat sebagai kepala staf Kodam XVI/Udayana. Setahun kemudian, ia dipercaya menjadi panglima Kodam IV/Sriwijaya.
Kariernya terus menanjak. Pada 1985, ia diangkat sebagai wakil kepala staf Angkatan Darat, lalu menjabat sebagai kepala staf Angkatan Darat pada periode 1986 hingga 1988.
Saat menjabat sebagai KSAD, ia menggagas pembentukan Badan Tabungan Wajib Perumahan TNI AD sebagai bentuk perhatian terhadap kesejahteraan prajurit.
Puncak karier militer Try Sutrisno tercapai ketika ia menjabat sebagai panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada periode 1988 hingga 1993. Dalam masa kepemimpinannya, ia menghadapi berbagai dinamika keamanan nasional.
Salah satu isu yang menonjol adalah penanganan Gerakan Pengacau Keamanan di Aceh pada tahun 1989. Pada masa tersebut, stabilitas keamanan menjadi prioritas utama pemerintah.
Pengalaman panjang di bidang militer inilah yang semakin menguatkan posisinya sebagai tokoh strategis di lingkaran pemerintahan saat itu.
Pada tahun 1993, Try Sutrisno diangkat menjadi wakil presiden Indonesia keenam mendampingi Presiden Soeharto. Jabatan tersebut diembannya hingga 1998.
Sebelum menduduki kursi wakil presiden, ia juga memiliki pengalaman sebagai ajudan Presiden Soeharto selama empat tahun. Kedekatan dan pengalaman kenegaraan tersebut memberinya pemahaman mendalam mengenai tata kelola pemerintahan.
Meski sempat muncul anggapan bahwa posisi wakil presiden hanya sebagai pelengkap, pengalaman dan latar belakang Try Sutrisno menjadikannya figur yang tetap memiliki pengaruh dalam pemerintahan.
Setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai wakil presiden, Try Sutrisno tetap aktif dalam berbagai organisasi. Ia terpilih sebagai ketua Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri) pada periode 1998 hingga 2003.
Dalam perannya tersebut, ia berhasil menyatukan berbagai unsur purnawirawan dari beragam matra dalam satu wadah organisasi. Kemampuannya dalam membangun soliditas organisasi menjadi salah satu ciri kepemimpinannya.
Selain itu, ia juga pernah dipercaya sebagai sesepuh partai di Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia.
Di balik perjalanan kariernya yang panjang, Try Sutrisno dikenal sebagai pribadi yang menjunjung tinggi nilai keluarga. Ia menikah dengan Tuti Sutiawati dan dikaruniai tujuh orang anak.
Sebagai jenderal yang berkiprah pada era Orde Baru, ia dikenal luas sebagai sosok yang tegas dan disegani. Namun di sisi lain, ia juga menunjukkan komitmen terhadap kesejahteraan prajurit dan soliditas organisasi.
